Novel "Pekerjaan Hari Demi Hari"
(Chapter 1 )
Pekerjaan Hari Demi Hari
S
emilir angin musim dingin bertiup kencang membuat helai-helai daun sisa musim gugur satu per satu jatuh ketanah. Keindahan musim dingin sudah berganti dengan musim yang akan membuat sampah dedaunan berserakkan di pagi hari. Sekarang – mungkin menunggu waktu, tidak lama saatnya musim gugur pertama akan turun di musim gugur ini. Sungguh, membayangkan saja sudah membuat Bude Kasih bertubuh mungil dengan kerudung yang Ia pakai dan dengan wajah yang kelelahan, berjalan diantara pohon-pohon dan setiap ruangan yang dia akan bersihkan, itu adalah tugas hari demi hari yang akan dia tempuh.
Bude Kasih, wanita yang tangguh dengan pekerjaan yang dia lakukan setiap pagi hari. Setiap pagi hari Bude selalu membawa peralatan untuk melakukan pekerjaan yang ia kerjakan, setiap pagi saya melihat keseharian dia dipagi hari, dia selalu tersenyum sambil membersihkan setiap ruangan. Saya bahkan sering menyapanya , “ pagi Bukde “, sapaan saya kepada bukde. Jawab bukde “ iya pagi”, sambil tersenyum.
Setelah perkerjaan semua yang ia kerjakan, bukde duduk ditaman FKIP sambil menarik nafas dipagi hari. Meminum air putih yang ia bawa dari rumahnya. Selepas dia duduk istirahat, ia mengumpulkan sebuah kardus, aqua gelas, dan botol kosong untuk ia jual nanti. Yang ia lakukan itu adalah pekerjaan sampingan, ketika uang tidak ada dia bisa menjual yang dia kumpulkan setiap harinya.
Saya memandang rutinitas keseharian Bude dipagi hari, saya sangat termotivasi akan kegigihan Bude Kasih. Saya jadi belajar dari keseharian Bude Kasih, tantangan hidup yang bagaimana akan ku tempuh ke depannya. Ketika saya melihat-lihat kesehariannya saya menyadari akan hal kewajiban seorang anak dirumah, saya yang malas ini akan merubah keseharian saya dirumah. Saya bersyukur atas gambaran dari keseharian Bude Kasih.
Setelah saya memperhatikan Bude Kasih dari kejauhan, saya mendekatinya sambil berjalan memandangi nya, “ Bude … “ sapaan saya. “ iya naak “, kata Bude Kasih. “ tatapan saya tidak ada henti-hentinya tuk menatap Bude itu, yang begitu punya semangat tinggi, “ ngapain melamun nak ?” ujar Bude. “ ah hahaha tidak melamun kok buk , saya memandang ibuk yang sudah tua aja ibu masih kuat dan bersemangat dengan rutinitas keseharian ibu“, jawab saya. Bude sambil tersenyum , “ sudah biasa nakk, kerja dipagi hari itu sehat “. ujar Bude.
Bude menghembuskan nafas sambil menghirup udara segar dan mulai merebahkan kaki dan tangannya. Udara di sekitar halaman begitu segar karna pada saat itu masih keadaan pagi hari. Sungguh ia benar-benar melelahkan setelah dia mengerjakan pekerjaannya. Namun dia tidak pernah menyerah begitu saja, terkadang saya sempat melamun dan bertanya-tanya melihat dia kenapa Bude yang sudah tidak terlihat muda dan memiliki tenaga yang kuat harus bekerja seperti ini? Apakah penghasilannya terbayar maksimal dengan apa yang dia kerjakan?
Lima menit kemudian, Bude memasukkan kardus ke dalam karung dan botol-botol kedalam plastik besar yang dia bawa dari rumah. Setelah itu ia meletakkan ke dalam gerobak yang dia bawa dari rumah. Bude pergi ke parkiran mobil dan membakar sampah yang dia kumpulkan tadi.
Dengan melihat itu saya terkadang merasa malu dengan Bude Kasih yang saya tidak ada apa-apa dibanding dia yang mempunyai semangat tinggi dan tidak malu atas pekerjaannya tersebut dan seharusnya dengan umur tersebut dia hanya menikmati masa tua nya lagi. Dia wanita terhebat yang pernah saya temui terkadang sesekali saya meneteskan air mata jika melihat sesosok Bude kasih tersebut. Saya merasa melihat seorang ibuku sendiri yang ada dirumah saat itu.
Komentar
Posting Komentar